Kenikmatan Wisata Durian
Sebelum membuka kawasan wisata agro ini, sang pemilik harus bolak-balik ke Thailand untuk belajar menanam durian yang baik.
Tiupan udara sejuk langsung terasa melegakan paru-paru saat memasuki kebun durian di Warso Farm. Pohon durian yang berjajar sangat rapi, memberi pemandangan yang sangat menawan. Kebun yang berada di perbukitan di Desa Cihideung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor ini menawarkan konsep agrowisata yang menarik perhatian banyak pengunjung.
Untuk mencapai lokasi ini sangatlah mudah. Dari Kota Bogor cukup satu kali naik angkutan kota jalur 03 jurusan Ramayana-Cihideung. Akhir dari rute angkutan kota ini sudah berada sangat dekat dengan kebun milik H Soewarso Pawaka ini. Hanya berjalan beberapa langkah dari terminal akhir angkutan kota, pengunjung bisa langsung melihat papan nama bertuliskan Warso Farm. Berdekatan dengan papan nama itu, terdapat 'patung' durian yang berukuran sangat besar. Di situlah lokasi agrowisata durian berada.
Anda yang menggunakan kendaraan pribadi juga cukup mudah untuk mencapai lokasi ini. Dengan menyusuri jalan utama yang melintas di Desa Cihideung, Anda akan menemukan 'patung' durian ini. Jalur tersebut merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Bogor dengan Sukabumi. Replika durian tersebut menjadi ciri yang sangat khas area wisata durian Warso Farm.
Bagian yang pertama kali terlihat saat memasuki lokasi tersebut adalah tempat parkir yang sangat luas. Bersebelahan dengan tempat parkir, terdapat balai yang dindingnya penuh dengan foto-foto kegiatan di kebun tersebut. Balai tersebut juga bisa menjadi lokasi bagi para pengunjung untuk mencicipi durian yang dipetik dari kebun durian seluas 8 hektare itu.
Kebun duriannya sendiri, berada tidak jauh dari balai tersebut. Pengunjung tinggal berjalan lebih masuk lagi untuk memasuki kebun yang tertata sangat rapi. Selain terdapat sekitar 800 batang pohon durian, di kebun ini juga terdapat hamparan sawah dan beberapa bangunan seperti saung untuk menjadi tempat istirahat. Di area persawahan ini, anak-anak kecil bisa bermain lebih bebas. Area persawahannya sendiri luasnya sekitar 8 haktare. Jadi, luas total Warso Farm sekitar 15 hektare.
Sedang bangunan berbentuk saung itu bisa menjadi tempat istirahat bagi pengunjung yang kelelahan setelah mengelilingi kebun. Di tempat ini pula, para pengunjung bisa menggelar pertemuan kecil dengan nuansa yang sangat menyegarkan.
Ada juga bangunan permanen yang tersedia di wilayah perbatasan kebun durian dan area persawahan. Bangunan permanen ini bisa menjadi penginapan para pengunjung yang ingin menikmati malam hari di kebun durian.
Bisa dibilang, Warso Farm ini menjadi pelopor wisata durian di Indonesia. Karena itulah, seluruh fasilitas pendukung yang tersedia di lokasi ini memang disiapkan untuk menerima kunjungan wisatawan yang membludak di akhir pekan. Di lokasi ini, pengunjung tidak hanya bisa menikmati durian segar dengan varitas unggul, tapi juga bisa belajar banyak tentang seluk-beluk buah tersebut.
Berseberangan dengan kebun durian, terdapat lahan yang cukup luas tempat pembibitan berbagai varitas pohon durian. Di tempat ini, para pengunjung bisa melihat langsung proses pembiakan pohon durian. Beberapa petugas di areal pembenihan ini pun bersedia menjelaskan trik dan tips menanam durian agar bisa menghasilkan buah yang menggiurkan.
Ada durian kesukaan Bung Karno
Sang pemilik Warso Farm, Soewarso, mengungkapkan bahwa lokasi wisata durian miliknya itu disiapkan sejak tahun 1980. Baru mulai tahun 1990, areal tersebut ditanami durian dengan berbagai varitas. Pria berusia 79 tahun itu mengaku, dirinya harus bolak-balik ke Thailand untuk belajar menanam durian yang baik. Selain itu, dia juga terus menjalin kontak dengan para petani durian di negara tersebut.
Maklumlah, sebagian besar tanaman durian yang berada di kebun tersebut memang jenis durian montong yang asalnya dari Thailand. ''Selain montong, kami juga menanam varitas lain,'' ungkap ayah enam anak dan kakek 16 cucu itu. Jenis durian yang bisa ditemui di lokasi agrowisata tersebut selain durian montong adalah, durian petruk, lai, simas, kaniau, hepe, tunan, D-24, sukun, citokong, cane, serta unggul bakul. ''Durian simas adalah durian kesukaan Bung Karno,'' ungkap Soewarso.
Mulanya, pengunjung yang hendak masuk ke kebun wisata ini sama sekali tidak ditarik biaya. Namun karena adanya risiko kerusakan yang harus ditanggung, saat ini pengunjung dikenai biaya Rp 5.000 per orang untuk masuk kebun durian ini. Kebun itu pun hanya bisa dimasuki pengunjung pada hari Sabtu dan Ahad. Selain hari itu, pengunjung hanya bisa menikmati durian di balai bagian depan Warso Farm. Di hari Jumat, seluruh area wisata durian ini tutup.
Untuk mengelola lokasi wisata seluas itu, Soewarso mempekerjakan 50 orang dari desa setempat. Setiap tiga bulan sekali, seluruh pegawai dikumpulkan untuk diberi nasihat mengenai filsafat hidup dan pentingnya menyatu dengan alam. "Sebab, untuk bisa merawat tanaman (durian) ini, kita harus bisa benar-benar menyatu. Kita harus tinggal di sini," ungkap dia.
Memang, di lokasi wisata durian itulah, Soewarso dan keluarganya tinggal. Selain pengunjung yang datang untuk berwisata, Warso Farm juga menjadi rujukan bagi mereka yang ingin berkebun durian. Penanggung jawab Warso Farm, Buyung, menjelaskan bahwa tempat wisata yang dikelolanya itu sudah cukup banyak dikunjungi pejabat yang terkait dengan pertanian dari negara lain. ''Menteri pertanian Srilanka termasuk orang yang pernah datang ke sini,'' ungkap Buyung. Selain itu, menurut dia, juga cukup banyak bupati dan gubernur yang bertandang ke tempat agrowisata durian tersebut untuk menjajaki kemungkinan mengembangkan hal serupa di daerahnya. Sebagian di antara mereka, kini sudah memulainya.
Bibit dan Pupuk Dibuat Sendiri
Saat mulai membangun lokasi wisata durian di Desa Cihideung, Kecamatan, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Soewarso Pawaka mengaku sempat terkecoh oleh para pedagang benih durian. Untuk membangun kebunnya, dia mengandalkan bibit yang dijual para pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di situ, dia sering tertipu.
Menurut dia, para pedagang sering mengatakan bahwa bibit yang dijualnya adalah bibit durian montong. Ini adalah durian varitas unggul yang berasal dari Thailand. Selain buahnya besar, rasa duriannya juga manis dengan biji yang kecil dan daging yang sangat tebal. Setelah dinyatakan sebagai durian montong, Soewarso pun langsung membeli bibit itu. Namun setelah ditanam, ternyata bukan durian montong yang dibuahkannya, melainkan durian lokal biasa. Terpaksalah, tanaman itu ditebang dan diganti lagi dengan bibit baru.
Kini, Soewarso tidak bisa lagi terkecoh. Lokasi wisata duriannya kini sudah mengembangkan sendiri bibit-bibit durian varitas unggul. Penanggung jawab Warso Farm, Buyung, mengungkapkan bahwa bibit yang dihasilkannya memiliki sifat yang mirip dengan induknya. Bibit-bibit itu, menurut Buyung, juga dijual secara bebas. Setiap bulan, kebun tersebut bisa memproduksi sekitar 7.000 bibit durian varitas unggul.
Selain bibit, Warso Farm juga membuat pupuk sendiri untuk menyuburkan tanaman durian. Pupuk itu tidak lain adalah kompos yang merupakan campuran pupuk kandang dengan sampah dedaunan. ''Kalau kita membeli pupuk di luar harganya Rp 4.000 per kilogram, di sini hanya Rp 1.000 per kilogram,'' ungkap Buyung.
Sampah dedaunan bisa diperoleh dari area perkebunan. Sedang pupuk kandangnya, dikumpulkan dari warga setempat yang memelihara ternak. ''Beberapa karyawan di sini juga ada yang biasa mengumpulkan kotoran dari binatang ternak,'' ungkap Soewarso. Menurut dia, pupuk kandang tersebut bisa memberi penghasilan tambahan kepada warga setempat.
Kini Soewarso sangat terobsesi untuk membuat kompos dalam skala yang lebih besar dengan memanfaatkan sampah. Dia ingin mengolah begitu banyak sampah yang menumpuk di tempat-tempat pembuangan sampah menjadi kompos. Dia sangat berharap obsesinya ini bisa segera diwujudkan.
(irf )
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar